Selasa, 19 September 2017

ANALISA PERUSAHAAN


ANALISIS PERUSAHAAN PT. BLUE BIRD GROUP


blue-bird-group-plan-for-ipo-in-2013_big__20121113074750_file_vino_cms
Nama: Asmarani Shabrina
NPM: 11512212
Kelas: 3 PA 08
Mata Kuliah: Psikologi Manajemen

Sekilas tentang Blue Bird Group

Dari taksi, kontainer hingga alat berat,  Blue Bird Group adalah kelompok usaha yang melayani segala kebutuhan transportasi Anda. Bagi banyak warga Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia, Blue Bird Group bukan hanya sekadar perusahaan taksi tapi menjadi bagian dari gaya hidup.
Jika New York terkenal dengan yellow taxi dan London dengan  black cab, maka Jakarta dengan Blue Bird : armada taksi biru yang selalu menghiasi jalan-jalan Ibukota yang sibuk setiap waktu.
Bemula dari hanya 25 taksi di tahun 1972, kini armada Blue Bird Group telah mencapai 28,904 kendaraan yang tersebar di sejumlah kota besar di Indonesia.  Kini layanan Blue Bird Group dapat dinikmati termasuk Jakarta dan sekitarnya, Bali, Bandung, Banten, Batam, Lombok, Manado, Medan, Padang, Pekanbaru, Palembang, Semarang, Solo, Surabaya dan Yogyakarta. Juga di jantung pusat bisnis dan tujuan wisata di seluruh negeri.
Melayani lebih dari 8,5 juta penumpang setiap bulannya, Blue Bird Group telah memperluas jenis layanannya, mulai dari  taksi eksekutif (Silver bird),  layanan limousine dan penyewaan mobil (Golden bird), bus carter (Big bird), Logistik (Iron Bird Logistic), Industri (Restu Ibu Pusaka-Karoseri bus & Pusaka Niaga Indonesia), Properti (Holiday Resort Lombok & Pusaka Bumi Mutiara), Layanan Pendukung (Hermis Consulting-IT SAP, Pusaka Integrasi Mandiri-EDC, Pusaka GPS, Pusaka Buana Utama-SPBU) dan Alat Berat (Pusaka Andalan Perkasa & Pusaka Bumi Transportasi).
Sebagian dari  keberhasilan ini berkat kemampuan kami menjaga kualitas pelayanan selama bertahun-tahun.  Strategi penempatan armada serta  kemudahan mendapatkannya, misalnya, telah membuat Blue Bird Group meraih predikat sebagai mitra transportasi yang handal dan terpercaya.

Visi

‘Menjadi Perusahaan yang mampu bertahan dan mengedepankan kualitas untuk memastikan kesejahteraan yang berkelanjutan bagi para stakeholder’

Misi

‘Tujuan kita adalah tercapainya kepuasan pelanggan, dan mengembangkan serta mempertahankan diri sebagai pemimpin pasar di setiap kategori yang kita masuki. Dalam transportasi darat, kita menyediakan layanan yang handal, dan berkualitas tinggi dengan penggunaan sumber daya yang efisien dan kita melakukannya sebagai satu tim yang utuh.’
CEO PT. Blue Bird Group
Dr. H. Purnomo Prawiro
purnomo prawiro
Mengelola Blue Bird Group laksana memimpin armada besar yang berawakkan 32.000 orang. Dengan demikian kepaduan visi, misi, dan pengertian menjadi hal yang lebih penting. Sebagai sebuah perusahaan, kami didorong dari dalam dan luar untuk terus bertumbuh. Keluarga besar kami yang terdiri dari para pengemudi dan staf bertekad menjaga kepuasaan pelanggan untuk jangka panjang dengan senantiasa menjaga mutu layanan dan memfokuskan perhatian. Hal yang hanya bisa dilakukan lewat komunikasi yang efektif, infrastuktur yang padu, serta sistem tarif dan reservasi yang baik. Selama bertahun-tahun taksi Blue Bird telah berupaya menyajikan layanan berbeda antara lain pesanan lewat telefon, pengembalian barang yang tertinggal, serta pusat layanan pelanggan. Merupakan harapan terbesar kami untuk terus menghargai pelanggan; untuk itu kami pun menyajikan perangkat teknologi mutakhir yang dapat senantiasa menciptakan layanan aman dan nyaman bagi pelanggan.
Artikel mengenai Dr. H. Purnomo Prawiro
VIVAnews – Blue Bird Group, nama ini begitu menonjol dalam bisnis taksi di Indonesia. Khususnya di ibukota Jakarta dan beberapa kota besar lainnya, Blue Bird telah berkembang menjadi perusahaan transportasi darat terkemuka.
Bahkan, sangat sulit dibantah, di antara berbagai merek taksi yang beredar di wilayah Jakarta dan sekitarnya, diferensiasi taksi Blue Bird tampak begitu menonjol.
Diferensiasi itu bukan saja pada sistem IT, database management dan sistem renumerisasi mereka yang baik. Selain itu, dalam hal service, pengemudi Blue Bird juga terkenal lebih baik dan sopan ketimbang supir-supir taksi merek lain.
Pertanyaannya, siapakah sosok dibalik perusahaan taksi yang didirikan sejak 38 tahun silam tersebut?
Dialah Purnomo Prawiro. Dia adalah orang terpenting dibalik perusahaan taksi yang memiliki belasan ribu armada. Dalam CEO Speak yang digelar oleh Binus Business School, Selasa, 9 Agustus 2010, Purnomo Prawiro bercerita bagaimana siasatnya mengelola perusahaan taksi yang melibatkan 20 ribu pengemudi tersebut.
“Proses utama yang harus dilakukan sebelum memberikan service kepada pelanggan adalah peranan dari manusia di perusahaan, khususnya para pengemudi,” kata dia dalam keterangan yang diterima VIVAnews. 
Kemudian, kata dia, berlanjut pada infrastruktur dan sistem manajemen. Sebagai atasan yang membawahi ribuan karyawan, ia berusaha memberikan contoh baik kepada bawahannya. 
“Tak perlu susah-susah, cukup memberi ucapan “Selamat pagi” atau “Bagaimana hari ini?” kepada bawahan ketika berpapasan,”
 kata dia.
Seiring perjalanan waktu, slogan “Andal” pun mereka luncurkan. Andal merupakan akronim dari: Aman, Nyaman, Mudah dan Personalize. Jadi, service-nya berkembang. Tidak lagi sekadar mengemban tugas mengantarkan pelanggan dari satu titik ke titik yang lain, tapi disesuaikan dengan permintaan pelanggan.
Slogan “Andal” dijadikan pedoman Blue Bird dalam memberikan service kepada pelanggan. Sang CEO juga berusaha memberikan contoh yang baik kepada bawahannya.
Dia menekankan slogan Andal harus diaplikasikan oleh karyawan Blue Bird di semua tingkatan. Dari atasan hingga back office dan frontliners yang langsung berhubungan dengan pelanggan. Jika semua karyawan—khususnya pengemudi—merasa nyaman dalam bekerja, maka hal ini akan berdampak pada pelayanan yang diberikan kepada pelanggan.
Purnomo mengatakan visi melayani yang diterapkan mengacu pada sistem top-down. Artinya, service yang baik harus dimulai pada tingkatan atas yang kemudian berlanjut ke bawah.
Praktisnya, kata dia, pemimpin harus memberikan contoh kepada bawahannya: bagaimana memberikan pelayanan yang baik. “Harapannya, bawahan pun melakukan hal yang sama kepada pelanggan Blue Bird,” kata dia.
Kali ini, Binus Business School memilih Purnomo sebagai pembicara lantaran sebagai CEO, dia memiliki gaya kepemimpinan spesial, baik dalam membentuk budaya perusahaan, mengantisipasi perubahan, menggiatkan inovasi dan memaksimalkan sumber dayanya.
“Melalui tangan dingin CEO perusahaan dapat menempatkan perusahaan di posisi teratas dalam bisnis bahkan dapat dikenal di kancah internasional,” kata Firdaus Alamsjah, Executive Dean Binus Business School. Kami ingin mendapatkan words of wisdom dari praktisi dan CEO-nya.

PURNOMO PRAWIRO: BLUE BIRD BESAR KARENA PENDEKATAN MANUSIAWI (1)

Siapa hari ini yang tak kenal dengan armada taksi Blue Bird? Taksi Burung Biru ini boleh dibilang saat ini merajai jalanan Ibukota maupun kota-kota besar lain di Indonesia.  Tentu akan sangat menarik bisa membedah rahasia kesuksesan Blue Bird Group hingga bisa sebesar sekarang.
Beruntung Fadjar Adrianto, Happy Fajrian, dan fotografer Sufri Yuliardi dari Warta Ekonomi memperoleh kesempatan mewawancarai Purnomo Prawiro, CEO Blue Bird Group, guna mengurai sejarah kesuksesan Blue Bird Group sedari awal dan juga rencana bisnisnya ke depan. Berikut petikan wawancara mereka di ruang kerja Purnomo di kantor pusat Blue Bird, Jakarta. Walaupun wawancara sudah berlangsung beberapa bulan yang lalu, tapi masih banyak business wisdom yang didapat.
Pelajaran penting apa yang Anda peroleh dalam memimpin organisasi bisnis keluarga sebesar Blue Bird Group?
Background saya dari keluarga akademis. Ayah (alm. Djoko Soetono) dan ibu saya seumur hidupnya diabdikan untuk kegiatan akademis. Karena waktu mereka diabdikan untuk pendidikan dan sangat jujur, dari segi uang dan waktu, terus terang kehidupan kami sangat sederhana. Setelah ayah saya meninggal tahun 1965, kami mendapat peninggalan 2 mobil, satu dari polisi dan satu dari angkatan darat. Dengan modal itulah, maka pada tahun 1965 kami mulai bisnis dengan 2 mobil sebagai taksi gelap.
Ketika itu belum ada taksi meter. Yang kami lakukan ketika itu adalah kami mendekati hotel-hotel kecil di Jakarta untuk memperoleh order penumpang dari tamu-tamu hotel dan memberi komisi kepada bagian resepsionis hotel. Kami terima order dengan menerima telepon dari hotel-hotel itu untuk mengantar tamu hotel, seringnya ke bandara Kemayoran. Di bandara Kemayoran pun saya pernah menjadi calo taksi gelap. Itu cukup lama dan ketika itu kami tidak hanya untuk mencari uang jajan, tapi benar-benar untuk  mencari nafkah untuk keluarga. Karena penghasilan dari taksi gelap tidak tetap, saya juga mencari tambahan dengan menjadi calo karcis bioskop-bioskop di Jakarta.
Intinya, orang yang dalam keadaan sangat terdesak, pasti akan berpikir dia harus melakukan sesuatu, apapun itu. Kalau hidupnya enak, justru tidak berpikir apa-apa. Lihat saja kehidupan orang Amerika atau Eropa yang terlalu enak hidupnya sehingga tidak siap melakukan sesuatu ketika menghadapi krisis.
Bagaimana kiat mengelola 30.000 lebih karyawan Blue Bird Group sekarang?
Sekarang pengemudi kami sebanyak 20.000 lebih. Tentu tidak mudah mengelola orang sebanyak itu. Untuk itu, kami harus bisa merasakan apa yang dirasa para pengemudi itu. Jadi, kalau tidak pernah jadi pengemudi, dia tidak akan bisa merasakan apa yang dirasakan pengemudi itu. Macam-macam hal yang kami lakukan untuk mengelola mereka. Misalnya juga jangan menegur pengemudi di malam hari bila ia dinilai melakukan kesalahan. Ia tentu sudah capai bekerja seharian sehingga tidak bijak bila kemudian ditegur malam harinya.
Kemudian saya terapkan Blue Bird Peduli, kami berikan beasiswa Rp2 miliar lebih untuk lebih dari 1.000 orang pengemudi. Moto kita disini adalah kami semua sama. Kami menganut servant leadership, semua atasan disini harus melayani anak buahnya. Kalau mereka mengalami kesulitan, pimpinan harus turut  menyelesaikan.
Kami juga coba hilangkan jarak antara atasan dengan bawahan.  Lihat saja ruang kerja saya yang terbuka  dan langsung bisa dilihat dari luar, sementara sekretaris ada di ruangan lain. Kami tidak mau membangun ruang kerja direksi yang mewah dan tertutup karena itu akan memperlebar jarak antara direksi dan karyawan.
Kami memimpin lebih dari 30.000 karyawan yang tidak homogen dengan aneka macam latar belakang. Karena mereka bekerja di lapangan, kontak dengan mereka tentu jarang sekali. Maka, harus ada rasa kekeluargaan untuk mengurangi jarak antara karyawan dengan atasan. Disinilah pentingnya personal touch lewat program Blue Bird Peduli.
Program yang lain adalah kami memberi pengobatan gratis kepada para pengemudi, termasuk dokter jantung. Kami juga ada program peminjaman sepeda motor. Ada pula program haji yang setiap tahun ada 8 orang yang kami berangkatkan. Ini akan diberangkatkan lebih banyak lagi. Intinya, kami harus dekat dengan mereka. Jadi, dalam mengelola perusahaan, selain manajemen harus oke dan mempunyai target-target, dan key performance indicator, tidak boleh dilupakan pendekatan yang baik kepada bawahan. Kalau ada bawahan yang mengalami musibah seperti meninggal atau melakukan perkawinan, kami usahakan datang.  Mesti ada perhatian
karena mereka adalah manusia. Menurut saya, itu kunci sukses kami.
Di lain pihak, kami juga akan bersikap keras bila ada karyawan yang tidak jujur. Misalnya, kalau ada barang penumpang ketinggalan, tidak boleh diambil, tetapi harus dikembalikan. Kami tidak menjebak mereka, tetapi selalu kami tegaskan kepada mereka bahwa jangan melakukan kecurangan karena pasti kami tindak. Sampai-sampai orang luar negeri heran di Indonesia ketinggalan handphone di taksi bisa kembali, sementara di banyak negara itu tidak mungkin kembali.
Kiat Anda untuk membuat keputusan yang tepat dan bijak untuk perusahaan?
Saya menganut aliran demokrasi. Sehingga, kadang-kadang saya dianggap terlalu lean sehingga keputusan dibuat terlalu lama. Akan tetapi, bagi saya adalah tidak pernah keputusan itu datang dari langit. Setiap keputusan yang saya buat itu dibicarakan secara matang dengan seluruh karyawan dan pengemudi. Seperti keputusan yang menyangkut perubahan tarif argo dan komisi, semua pengemudi diajak bicara. Semua hal secara detil diberitahukan. Kami juga berkomunikasi intensif dengan Serikat Pekerja, termasuk mengenai filosofi perusahaan. Jadi, sebelum keputusan dibuat, sudah disetujui oleh semua pihak. Karena mereka sebelumnya sudah paham filosofi perusahaan.
Perusahaan dan pimpinan harus memperhatikan kepentingan karyawan dan di sisi lain, karyawan harus memperhatikan kepentingan perusahaan. Karena kami itu mitra, kami saling butuh. Jadi, semua pihak dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Hubungannya memang harus partnership, harus ada demokrasi, setiap kali ada keputusan, harus ada sosialisasinya. Mungkin lebih lama, tetapi lebih mantap karena mereka mengerti sebab-sebabnya.  Saya tidak yakin walau seseorang telah menguasai ilmu manajemen dengan kuat sebelum menjadi pengusaha atau eksekutif kemudian bisa sukses bila diharuskan memimpin orang sedemikian banyak seperti di bisnis taksi ini. Disinilah pentingnya faktor human touch.  Ia juga harus terus-menerus memberikan pelatihan kepada karyawan agar mereka tetap terkontrol.
Bagaimana cara Anda mengembangkan bisnis Blue Bird Group?
Kami harus terus menyesuaikan dengan keadaan. Perubahan yang paling pesat adalah elektronik dan komputerisasi. Tujuan komputerisasi bukan untuk mengurangi jumlah orang, tapi agar lebih terkontrol. Di ruang operasi pusat, order diberikan secara elektronik kepada pengemudi. Kini pemesanan taksi kami bisa dilakukan dari Blackberry, iPhone dan Android.
Orang bisa pesan taksi kami tanpa harus berbicara dengan operator kami, tetapi lewat menu  yang ada di smartphone-nya dan bisa mendeteksi kedatangan taksi, yang sudah diberitahu nomer lambung taksinya, ke lokasi pemesan lewat peta elektronik di smartphone mereka. Bahkan, beberapa bulan lagi kami akan meluncurkan layanan yang penumpang bisa menelpon taksi yang mereka pesan karena setiap taksi kami sebenarnya ada telponnya.
Teknologi mutlak diperlukan, tanpa teknologi perusahaan ini tidak akan jalan. Jadi, kami harus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Kedua, manajemen juga harus berubah karena itu. Walaupun, terus terang, saya merasa kehilangan kedekatan dengan pengemudi seiring dengan semakin besarnya perusahaan. Namun, saya tetap berusaha mengurangi jarak dengan karyawan. Pintu ruangan saya tidak pernah saya tutup. Kalau tutup, berarti saya sudah pulang.
Selain itu, pimpinan itu harus menjadi suri tauladan. Kita tidak bisa mengatakan harus jujur dan kerja keras, kalau kita sendiri tidak jujur dan bekerja keras. Kita tidak bisa mengatakan harus dekat dengan pengemudi, kalau kita sendiri sombong. Itu yang berat karena kita harus menjadi contoh, sementara kalau membangun sistem seperti sistem informasi, bisa dilakukan orang lain. Kita juga harus bisa menunjukkan empati atau merasakan apa yang dirasakan karyawan walau itu kadang-kadang memakan perasaan kita sendiri. Selama bisa kita bantu, akan kita bantu. Misalnya kalau ada pengemudi sakit berat, kami akan mengirim dokter perusahaan untuk membantu.
Jadi, untuk menangani orang yang begitu banyak, harus seimbang antara sistem manajemen yang kuat dengan pendekatan kekeluargaan. Soal sistem pengawasan operasional kami di seluruh Indonesia, kami memiliki sistem software back office yang terintegrasi. Misalnya, kami bisa tahu setiap saat taksi mana saja yang keluar dari pool kami di Bali. Lewat sistem itu pula kami bisa tahu konduite setiap pengemudi kami yang ada di Bali. Teknologi mutlak digunakan sekarang, baik untuk pembuatan keputusan maupun analisis. Kalau tidak ada teknologi, usaha kami bisa mati. Jadi, selain manajemen dan HRD harus kuat, harus ditopang pula dengan teknologi.
Analisis
            Berdasarkan profil, visi, dan misinya, PT. Blue Bird Group merupakan sebuah perusahaan taksi terbesar di Indonesia yang memiliki manajemen perusahaan yang baik. Sistem IT yang kian canggih, membuat pelanggan tidak hanya dapat memesan taksi lewat telepon, namun sekarang para pelanggan juga dapat memesan taksi lewat aplikasi yang ada di smartphone pelanggan agar  memudahkan para pelanggannya. Dalam hal service juga para pengemudi Blue Bird terkenal lebih baik dan lebih sopan dibanding perusahaan taksi lain.
Berhasilnya suatu perusahaan sangat bergantung pada bagaimana cara seorang pemimpin memanajemen sumber daya manusianya. Dari berbagai artikel diatas, Dr. H. Purnomo Prawiro selaku CEO dari PT. Blue Bird Group adalah sosok pemimpin yang sangat pantas dikatakan sebagai pemimpin yang berhasil. Pucuk pimpinan yang kuat terbentuk dengan dua syarat utama. Yaitu yang pertama adalah adanya figur pemimpin yang berani, berkarakter, visioner, dan tulus hati. Maksudnya, pemimpin yang baik adalah pemimpin yang berani mengambil keputusan secara tegas jika menyangkut nasib karyawannya. Yang kedua adalah adanya jarak yang tidak berarti antara pemimpin dan bawahannya.
Kemudian, didalam artikel tersebut Purnomo Prawiro juga menegaskan bahwa mereka manganut servant leadership. Servant leadership dikemukakan oleh Robert K. Greenleaf pada tahun 1970 dan menyatakan bahwa servant leader menjadi pemimpin dimulai dari perasaan alami bahwa seorang pemimpin ingin membantu, tujuan pertama kali seorang pemimpin adalah untuk membantu. Servant leadership adalah suatu kepemimpinan yang berawal dari perasaan tulus yang timbul dari dalam hati yang berkehendak untuk melayani, yaitu untuk menjadi pihak pertama yang melayani. Esensi dari model kepemimpinan ini adalah melayani yang dipimpin, baik karyawan, konstituen, pelanggan, atau masyarakat luas.
Purnomo Prawiro adalah seorang pemimpin yang sangat sesuai dengan beberapa ciri-ciri kepemimpinan yang ada. Yang pertama adalah, ia mampu menjadi seorang pendengar yang baik. Hal itu terlihat dari upayanya untuk memanggil dokter jantung dan memberi pengobatan gratis. Ia juga memberi contoh yang baik kepada karyawannya dengan cara menjadi seorang yang ramah dengan siapa saja saat dikantor. Ia berharap sifat ramahnya tersebut dapat karyawan praktekkan pada pelanggan. Selain itu, ia juga menggunakan peristiwa khusus untuk memotivasi karyawan-karyawannya agar menjadi lebih baik. Ia menyediakan program haji bagi para karyawannya yang dianggap memenuhi standar untuk mendapatkan hadiah ini.
Hingga saat ini, menurut saya, PT. Blue Bird Group adalah sebuah perusahaan jasa taksi terbaik dari sisi service maupun manajemennya di Indonesia. Jadi, suatu perusahaan dikatakan baik dan berhasil jika manajemen dan model kepemimpinannya baik.
DAFTAR PUSTAKA
Waluyo, Minto. 2013. Psikologi Industri. Jakarta: Akademia.

ANALISA KEUANGAN


Di pasar modal, laporan keuangan perusahaan memiliki fungsi yang sangat strategis. Laporan keuangan merupakan informasi yang menggambarkan dan untuk menilai kinerja perusahaan, terlebih bagi perusahaan yang sahamnya telah tercatat dan diperdagangkan di bursa. Informasi yang terdapat dalam laporan keuangan perusahaan dapat memberikan analisa laporan keuangan untuk menilai kinerja perusahaan yang juga mencerminkan fundamental perusahaan sehingga informasi tersebut dapat memberikan landasan bagi keputusan investasi. Ada bagian dalam laporan keuangan yang sering tidak diperhatikan investor, seperti laporan direksi atau manajemen perusahaan. Padahal, pada bagian tersebut manajemen sering kali menjelaskan mengenai perjalanan perusahaan selama ini, prospek dan recana mereka kedepannya. Dari sini Anda juga dapat melihat seberapa yakin manajemen terhadap prospek perusahaan. Dari ulasan manajemen ini Anda dapat pula melihat perkembangan bisnis terakhir, produk, persaingan dan kondisi keuangannya.
Angka-angka yang tertera dalam laporan keuangan itu menggambarkan kinerja perusahaan dan kemampuan manajemennya dalam mengelola usaha tersebut. Dari angka tersebut juga dapat dijadikan dasar untuk memproyeksikan apa yang akan terjadi.
Jenis Laporan Keuangan Perusahaan
Laporan keuangan perusahaan yang lengkap terdiri atas 5 (lima) bagian, yaitu :

  1. Neraca

  2. Laporan Laba Rugi

  3. Laporan Arus Kas

  4. Laporan Perubahan Modal

  5. Catatan atas Laporan Keuangan
Ketentuan Pelaporan Keuangan
Penyajian laporan keuangan perusahaan di pasar modal mengacu kepada Peraturan Bapepam dan Peraturan BEI, yaitu :

  1. Peraturan BAPEPAM nomor X.K.2. tentang Kewajiban Penyampaian Laporan Keuangan Berkala.

  2. Peraturan BAPEPAM nomor VIII.G.7. tentang Pedoman Penyajian Laporan Keuangan.

  3. Peraturan BAPEPAM nomor VIII.G.11. tetang Tangguung Jawab Direksi atas Laporan Keuangan.

  4. Surat Edaran BAPEPAM tentang Pedoman Penyajian dan Pengungkapan Laporan Keuangan Emiten atau Perusahaan Publik.

  5. Peraturan Pencatatan BEI nomor I-E tentang kewajiban penyampaian informasi.
Komponen Laporan Keuangan Perusahaan
Neraca
Neraca merupakan laporan yang menggambarkan posisi keuangan, yang menunjukan aktiva (aset), kewajiban (hutang) dan ekuitas (modal) dari suatu perusahaan pada tanggal tertentu. Aktiva atau aset adalah segala sesuatu yang dmiliki perusahaan, sedangkan pasiva (kewajiban & ekuitas) dapat dikatakan segala sesuatu yang dilakukan perusahaan untuk memperoleh atau membiayai aset tadi. Dalam neraca, aktiva lancar disajikan terpisah dari aktiva tidak lancar dan kewajiban lancar terpisah dari kewajiban tidak lancar, kecuali untuk industri tertentu yang diatur secara khusus. Aktiva lancar disajikan menurut ukuran likuiditas sedangkan kewajiban disajikan menurut urutan jatuh temponya.
Komponen Utama Neraca :
Aktiva

  1. Aktiva Lancar :

    1. Kas dan Setara Kas;

    2. Investasi Jangka Pendek;

    3. Wesel Tagih;

    4. Piutang Usaha;

    5. Piutang Lain-Lain;

    6. Persediaan;

    7. Pajak Dibayar Dimuka;

    8. Biaya Dibayar Dimuka;

    9. Aktiva Lancar Lain-Lain.

  2. Aktiva Tidak Lancar:

    1. Piutang Hubungan Istimewa;

    2. Aktiva Pajak Tangguhan;

    3. Investasi Pada Perusahaan Asosiasi;

    4. Investasi Jangka Panjang Lain;

    5. Aktiva Tetap;

    6. Aktiva tak Berwujud;

    7. Aktiva Lain-Lain.
Kewajiban

  1. Kewajiban Lancar :

    1. Pinjaman Jangka Pendek;

    2. Wesel Bayar;

    3. Hutang Usaha;

    4. Hutang Pajak;

    5. Beban Yang Masih Harus Dibayar;

    6. Bagian Kewajiban Jangka Panjang yang akan Jatuh Tempo dalam Waktu Satu Tahun;

    7. Kewajiban Lancar Lain-lain.

  2. Kewajiban Tidak Lancar:

    1. Hutang Hubungan Istimewa;

    2. Kewajiban Pajak Tangguhan;

    3. Pinjaman Jangka Panjang;

    4. Hutang Sewa Guna Usaha;

    5. Hutang Obligasi;

    6. Kewajiban Tidak Lancar Lainnya;

    7. Hutang Subordinasi;

    8. Obligasi Konversi.
Ekuitas

  1. Modal Saham;

  2. Tambahan Modal Disetor;

  3. Selisih Kurs Karena Penjabaran Laporan Keuangan Perusahaan;

  4. Selisih Transaksi Perubahan Ekuitas Anak Perusahaan / Perusahaan Asosiasi;

  5. Selisih Nilai Transaksi Restrukturisasi Entitas Sepengandali;

  6. Keuntungan (Kerugian) yang Belum Direalisasi dari Efek Tersedia Untuk Dijual;

  7. Selisih Penilaian Kembali Aktiva Tetap;

  8. Saldo Laba;

  9. Modal Saham Diperoleh Kembali.
Laporan Laba Rugi
Laporan Laba Rugi merupakan ringkasan aktivitas usaha perusahaan untuk periode tertentu yang melaporkan hasil usaha bersih atau kerugian yang timbul dari kegiatan usaha dan aktivitas lainnya.
Komponen utama laporan laba rugi yang diuraikan di bawah ini menggunakan metode beban fungsional. Bagi jenis-jenis industri tertentu, dimungkinkan untuk menggunakan metode lain yang telah ditentukan.
Komponen Utama Laporan Laba Rugi :

  1. Penjualan Bersih atau Pendapatan Usaha;

  2. Beban Pokok Penjualan;

  3. Laba (Rugi) Kotor;

  4. Beban Usaha;

  5. Laba (Rugi) Usaha;

  6. Penghasilan (Beban) Lain-lain;

  7. Bagian Laba (Rugi) Perusahaan Asosiasi;

  8. Laba (Rugi) Sebelum Pajak Penghasilan;

  9. Beban (Penghasilan) Pajak;

  10. Laba (Rugi) dari Aktivitas Normal;

  11. Pos Luar Biasa;

  12. Laba (Rugi) Sebelum Hak Minoritas;

  13. Hak Minoritas atas Laba (Rugi) Bersih Anak Perusahaan;

  14. Laba (Rugi) Bersih;

  15. Laba (Rugi) Per Saham Dasar;

  16. Laba (Rugi) Per Saham Dilusi.
Laporan Perubahan Ekuitas
Laporan Perubahan Ekuitas adalah laporan yang menunjukan perubahan yang menggambarkan peningkatan atau penurunan aktiva bersih atau kekayaan selama periode pelaporan.
Laporan ini harus menyajikan :

  1. Laba (Rugi) bersih periode pelaporan;

  2. Setiap pos pendapatan dan beban, keuntungan atau kerugian yang diakui secara langsung dalam ekuitas;

  3. Pengaruh kumulatif dari perubahan kebijakan akuntansi dan koreksi atas kesalahan mendasar;

  4. Transaksi modal dengan pemilik dan distribusi kepada pemilik, antara lain berupa penyetoran modal saham dan pembagian dividen;

  5. Saldo akumulasi laba atau rugi pada awal dan akhir periode serta perubahannya;

  6. Rekonsiliasi antara nilai tercatat dari masing-masing jenis modal ditempatkan dan disetor penuh, tambahan modal disetor dan pos-pos ekuitas lainnya pada awal dan akhir periode yang mengungkapkan secara terpisah setiap perubahan.
Laporan Arus Kas
Laporan ini menunjukan penerimaan dan pengeluaran kas dalam aktivitas perusahaan selama periode tertentu dan diklasifikasikan menurut aktivitas operasi, investasi dan pendanaan. Dari sinilah Anda dapat mengetahui apakah uang perusahaan cukup atau tidak untuk membagi dividen. Laporan arus kas juga dapat mencerminkan apa yang sesungguhnya terjadi pada perusahaan. Walaupun merugi, perusahaan masih dapat hidup selama arus kasnya positif. Selain itu dapat juga dilihat dari free cash flow (arus kas operasional dikurangi dengan capital expenditure), perusahaan yang free cash flow-nya bertumbuh punya prospek yang bagus karena punya uang untuk ekspansi.
Komponen Utama Laporan Arus Kas :

  • Arus Kas dari aktivitas operasi, adalah arus kas yang terutama diperoleh dari aktivitas penghasil utama pendapatan perusahaan, oleh karena itu arus kas ini pada umumnya berasal dari transaksi dan peristiwa lain yang mempengaruhi penetapan laba (rugi) bersih. Arus kas dari aktivitas operasi antara lain dapat berupa arus kas dari transaksi penjualan, pembayaran kepada pemasok, karyawan, bunga, beban operasional lainnya dan pajak penghasilan. Perusahaan harus menyajikan arus kas dari aktivitas operasi dengan menggunakan metode langsung (direct methode). Perusahaan yang baik tentu saja uang kasnya berasal dari sini.

  • Arus kas dari aktivitas investasi, mencerminkan penerimaan dan pengeluran kas sehubungan dengan perolehan atau pelepasan sumber daya yang bertujuan untuk menghasilkan pendapatan dan arus kas masa depan. Arus kas dari aktivitas investasi antara lain dapat berasal dari transaksi pembelian dan penjualan aktiva tetap, aktiva tak berwujud, dan aktiva lain, serta uang muka dan pinjaman yang diberikan kepada pihak lain. Tidak termasuk di sini adalah penempatan dana perusahaan untuk jangka pendek seperti deposito yang kurang dari satu tahun dan investasi pada efek untuk diperdagangkan.

  • Arus kas dari aktivitas pendanaan, timbul dari penerimaan dan pengeluaran kas sehubungan dengan transaksi pendanaan jangka panjang dengan pemegang saham perusahaan dan kreditur. Arus kas dari aktivitas pendanaan antara lain dapat berupa penerimaan kas dari emisi saham dan obligasi, pembayaran dividen, serta pelunasan pinjaman.
Catatan Laporan Keuangan Perusahaan
Catatan atas Laporan Keuangan Perusahaan memberikan penjelasan mengenai gambaran umum perusahaan, ikhtisar kebijakan akuntansi, penjelasan pos-pos laporan keuangan dan informasi penting lainnya.
Angka-angka pada laporan keuangan ibarat bahan mentah yang tidak ada gunanya jika tidak diolah lebih dulu. Caranya yaitu dengan menggunakan rasio-rasio keuangan. Analisa rasio-rasio pada laporan keuangan bermanfaat untuk membantu Anda untuk melakukan berbagai analisis atas kinerja keuangan perusahaan. Anda juga harus membandingkan dengan laporan keuangan dan rasio-rasio sebelumya, setidaknya sampai lima tahun kebelakang untuk mengetahui tren bisnisnya. Untuk mengetahui bagus tidaknya angka rasio yang Anda peroleh, Anda harus membandingkannya dengan rasio perusahaan-perusahaan lain disektor sejenis atau dengan rasio rata-rata sektor tersebut. Melalui angka-angka rasio keuangan, pemakai dapat membuat berbagai analisis kinerja perusahaan termasuk keputusan investasi. Secara umum, rasio keuangan dibagi kedalam beberapa kelompok seperti : rasio likuiditas, rasio aktivitas, rasio utang atau leverage, rasio kemampulabaan, serta rasio saham.
Berikut beberapa rasio penting yang umum digunakan dalam berbagai analisis atas laporan keuangan.

  1. Current Ratio (Rasio Lancar). Rasio keuangan ini menunjukan sejauh mana aktiva lancar dapat menutupi kewajiban lancar. Semakin besar hasil perbandingan aktiva lancar dengan hutang lancar, semakin tinggi kemampuan perusahaan untuk menutupi kewajiban jangka pendek.
    Current Ratio = Aktiva Lancar / Utang Lancar
  2. Quick Ratio. Mengukur apakah perusahaan memiliki aset lancar (tanpa harus menjual persediaan) untuk menutup kewajiban jangka pendeknya. Semakin tinggi quick ratio perusahaan, semakn baik kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban lancarnya.
    Quick Ratio = (Aktiva Lancar – persediaan) / Utang Lancar
  3. Debt to Equity Ratio (Rasio Utang atas Modal). Rasio keuangan ini sering disebut dengan istilah Rasio Laverage, menggambarkan struktur modal yang dimiliki oleh perusahaan, dengan demikian dapat dilihat struktur resiko tidak tertagihnya hutang. Semakin kecil angka rasio ini semakin baik.
    Debt to Equity = Total Utang / Ekuitas
  4. Total Debt to Total Asset. Menggambarkan aktiva yang dipergunakan oleh perusahaan untuk menutup hutang baik jangka pendek maupun jangka panjang.
    Total Debt to Capital Asset = Total Utang / Total Aktiva
  5. Operating Profit Margin. Rasio keuangan ini mengukur seberapa besar sumbangan penjualan terhadap laba operasi. Rasio ini semakin besar semakin baik.
    OPM = Laba Operasi / Penjualan
  6. Net Profit Margin. Rasio keuangan ini mengukur seberapa besar sumbangan penjualan terhadap laba bersih perusahaan. Rasio ini semakin besar semakin baik.
    NPM = Laba Bersih / Penjualan
  7. Return on Equity (ROE) . Menggambarkan seberapa besar sumbangan keuntungan terhadap pemegang saham.
    ROE = Laba Bersih / Ekuitas
  8. Return on Asset (ROA) . Mencerminkan seberapa besar laba yang bisa dicetak perusahaan dengan menggunakan seluruh asetnya.
    ROA = Laba Bersih / Total Aset
  9. Asset Turnover. Menunjukan kemampuan manajemen mengelola seluruh investasi (aset) untuk menghasilkan penjualan.
    Asset Turnover = Penjualan Bersih / Total Aktiva
  10. Receivable Turnover. Menunjukan berapa kali piutang dagang perusahaan berputar dalam satu tahun.
    Receivable Turnover = Penjualan Kredit / Piutang Dagang
  11. Inventory Turnover. Menunjukan berapa kali persediaan barang dagangan perusahaan berputar dalam suatu periode tertentu.
    Inventory Turnover = Harga Pokok Penjualan / Persediaan
  12. Account Payable Turnover. Menunjukan perputaran utang dagang dalam suatu periode tertentu.
    Account Payable Turnover = Harga Pokok Penjualan / Utang Dagang
  13. Earning Per Share (EPS) . Rasio keuangan ini menggambarkan jumlah laba yang dihasilkan perusahaan untuk tiap saham yang diterbitkan.
    EPS = Laba Bersih / Jumlah Saham
  14. Price Earning Ratio (PER) . Menggambarkan apresiasi pasar terhadap kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba. PER dihitung dalam satuan kali. Bagi investor, semakin kecil PER-nya semakin bagus karena berarti saham tersebut relatif murah.
    PER = Harga Saham / EPS
  15. Book Value (Nilai Buku Saham). Menggambarkan perbandingan total dana pemegang saham terhadap jumlah saham.
    BV = Total Ekuitas / Jumlah Saham
  16. Price to Book Value (PBV) . Rasio keuangan ini menggambarkan seberapa besar pasar menghargai nilai buku saham suatu perusahaan. Makin tinggi rasio ini, berarti pasar percaya akan prospek perusahaan.
    PBV = Harga Saham / Nilai Buku Saham
Pada dasarnya penyusunan Laporan Keuangan Perusahaan dimaksudkan sebagai alat bantu bagi manajemen (intern) untuk mengetahui kondisi keuangan sehingga dapat menentukan kebijakan keuangan secara tepat. Sedangkan bagi pihak luar (Pemodal, maupun Kreditur) laporan keuangan perusahaan dapat dipakai sebagai alat untuk pengambilan keputusan dalam melakukan investasi.

ANALISA LAPORAN KEUANGAN


ANALISA LAPORAN KEUANGAN 

CONTOH KINERJA MENURUN


Laporan keuangan menggambarkan kondisi keuangan dan hasil usaha suatu perusahaan pada saat tertentu atau jangka waktu tertentu. Adapun jenis laporan keuangan yang lazim dikenal adalah neraca, laporan laba-rugi atau hasil usaha, laporan perubahan ekuitas, dan laporan arus kas.
Menurut Munawir (2010:31), tujuan analisis laporan keuangan merupakan alat yang sangat penting untuk memperoleh informasi sehubungan dengan posisi keuangan dan hasil-hasil yang telah dicapai perusahaan yang bersangkutan. Data keuangan tersebut akan lebih berarti bagi pihak-pihak yang berkepentingan apabila data tersebut diperbandingkan untuk dua periode atau lebih, dan dianalisa lebih lanjut sehingga akan dapat diperoleh data yang akan dapat mendukung keputusan yang akan diambil.
Analisa laporan keuangan akan memberikan informasi tentang kinerja keuangan perusahaan. Informasi tersebut tentu perlu dikaji lebih lanjut untuk mengetahui mengapa kondisi tersebut bisa terjadi. Analisa faktor internal dan eksternal perusahaan dapat melengkapi suatu analisa laporan keuangan, sehingga hasil analisa dapat mengarahkan tindakan korektif yang tepat untuk perbaikan kinerja keuangan perusahaan dalam periode berikutnya.
Pengukuran kinerja keuangan perusahaan dapat berupa kebijakan, anggaran, perusahaan sejenis atau rata-rata industry, atau pencapaian tahun tahun sebelumnya.

NERACA

Menurut Harahap (2009:107), neraca atau daftar neraca disebut juga laporan posisi keuangan perusahaan. Laporan ini menggambarkan posisi aset, kewajiban dan ekuitas pada saat tertentu. Neraca atau balance sheet adalah laporan yang menyajikan sumber-sumber ekonomis dari suatu perusahaan atau aset kewajiban-kewajibannya atau utang, dan hak para pemilik perusahaan yang tertanam dalam perusahaan tersebut atau ekuitas pemilik suatu saat tertentu. Neraca harus disusun secara sistematis sehingga dapat memberikan gambaran mengenai posisi keuangan perusahaan. Oleh karena itu neraca tepatnya dinamakan statements of financial position. Karena neraca merupakan potret atau gambaran keadaan pada suatu saat tertentu maka neraca merupakan status report bukan merupakan flow report.
Secara garis besar komponen neraca dapat digambarkan sebagai berikut:
ASET LANCAR (AL)Adalah aset yang dapat digunakan dalam jangka waktu dekat, biasanya tidak lebih satu tahun. Contohnya Kas, Piutang, Persediaan, Beban dibayar dimuka, dan aset lainnya yang diharapkan dapat dikonversi ke Kas dalam jangka waktu dekat.
ASET TIDAK LANCAR (ATL)adalah aset yang umur ekonomisnya lebih dari satu tahun. Contoh aset tak lancar ialah tanah, bangunan mesin dan sejenisnya. Usia kegunaan ekonomis aset tak lancar biasanya melampaui jangka satu tahun dan tidak dimaksudkan untuk dijual. Contoh: Investasi jangka panjang, Bangunan, Mesin pabrik.
KEWAJIBAN LANCAR (KL)merupakan kewajiban masa kini entitas yang timbul dari peristiwa masa lalu, yang penyelesaiannya diharapkan mengakibatkan arus keluar dari sumber daya entitas yang mengandung manfaat ekonomi.
Contoh: Utang usaha, Pinjaman jangka pendek, dan beban beban yang masih harus dibayar dalam satu periode akuntansi.
KEWAJIBAN JANGKA PANJANG (KJP)Kewajiban jangka panjang adalah hutang yang penyelesaiannya memiliki jangka waktu lebih dari satu periode siklus akuntansi atau lebih dari satu tahun kalender. Contoh Pinjaman Bank
EKUITASEkuitas adalah hak residual atas aset entitas setelah dikurangi semua kewajiban.

LAPORAN RUGI LABA

Menurut Munawir (2010:26), laporan laba-rugi merupakan suatu laporan yang sistematis tentang penghasilan, beban, laba-rugi yang diperoleh oleh suatu perusahaan selama periode tertentu. Walaupun belum ada keseragaman tentang susunan laporan laba-rugi bagi tiap-tiap perusahaan, namun prinsip-prinsip yang umumnya diterapkan adalah sebagai berikut:
  1. Bagian yang pertama menunjukkan penghasilan yang diperoleh dari usaha pokok perusahaan (penjualan barang dagangan atau memberikan service) diikuti dengan harga pokok dari barang yang dijual, sehingga diperoleh laba kotor.
  2. Bagian kedua menunjukkan beban-beban operasional yang terdiri dari beban penjualan dan beban umum/administrasi (operating expenses).
  3. Bagian ketiga menunjukkan hasil-hasil yang diperoleh di luar operasi pokok perusahaan, yang diikuti dengan beban-beban yang terjadi di luar usaha pokok perusahaan (non operating/financial income dan expenses).
  4. Bagian keempat menunjukkan laba atau rugi yang insidentil (extra ordinary gain or loss) sehingga akhirnya diperoleh laba bersih sebelum pajak pendapatan.
CONTOH ANALISA LAPORAN KEUANGAN
Dalam contoh analisa laporan keuangan berikut, difokuskan pada Neraca dan laporan Rugi Laba. Analisa dilakukan dengan cara membandingkan laporan keuangan tahun sebelumnya.
Berikut contoh 
neraca dan laporan rugi laba yang disajikan secara komparatif. Laporan keuangan yang disajikan berikut ini adalah standar laporan keuangan yang disajikan dalam Software Akuntansi Gplus.

ANALISA HASIL USAHA

Berdasarkan Neraca dan laporan rugi laba di atas, akan dilakukan analisa yang berkaitan dengan hasil usaha dan keuangan perusahaan. Karena keterbatasan data yang tersedia, maka analisa laporan keuangan masih terbatas dan masih memerlukan analisa lanjutan untuk menemukan substansi permasalahan.

1. PENJUALAN

Berdasarkan laporan rugi laba di atas, tercatat penjualan tahun 2016 tercapai 798 juta, dibanding tahun 2015  maka penjualan tahun 2016 tercatat turun 4,2%. Apabila dalam tahun 2016 telah dilakukan kenaikan harga jual, maka penurunan penjualan dalam volume lebih besar dari 4,2%. Dari segi bisnis bila terjadi trend penjualan cenderung turun, menunjukkan kinerja yang kurang baik. Apabila penurunan penjualan tersebut sudah terjadi tahun lalu, maka bisnis perusahaan bisa masuk dalam zona bahaya. Oleh karena itu perlu dilakukan analisa penjualan lebih jauh, untuk mendapatkan informasi apa penyebab penjualan tersebut turun. Penyebab turunnya penjualan bisa dari internal maupun eksternal perusahaan. Oleh karena itu manajemen harus bisa memberikan kesimpulan yang tepat tentang terjadinya penurunan penjualan tersebut, sehingga informasi tersebut dapat dijadikan landasan untuk memperbaiki kinerja di tahun berikutnya.
Bagi perusahaan masuk dalam zona bahaya, maka untuk memperbaikinya bukan hal mudah, banyak kasus penanganannya memerlukan biaya dan investasi yang tidak sedikit.

2. HARGA POKOK PENJUALAN

Secara nominal harga pokok penjualan turun 8,1% dibanding tahun lalu, jumlah penurunan ini lebih besar dari penurunan penjualan, sehingga dapat menutup pendapatan yang hilang akibat penurunan penjualan.
Dalam penentuan harga pokok penjualan dengan metode full costing, maka di dalam harga pokok penjualan terdapat Biaya tetap (fixed cost), sehingga penurunan penjualan tersebut akan berdampak pada prosentase harga pokok penjualan terhadap penjualan akan lebih besar. Dalam pencapaian prosentase harga pokok terhadap penjualan di atas tercatat 49,5% (2016) dan angka ini lebih rendah 2% dibanding tahun sebelumnya sebesar 51,5%.
Pengendalian harga pokok penjualan dapat disimpulkan cukup berhasil dan menunjukkan ada upaya yang cukup baik dalam mengatasi dampak dari penurunan penjualan terhadap laba kotor.
Yang perlu didalami berikutnya adalah apa yang telah dilakukan sehingga harga pokok penjualan tersebut turun 8,1%, apakah terjadi efsiensi, atau diperolehnya harga beli yang lebih baik, atau ada perubahan penggunaan bahan bahan, atau terjadi penurunan kualitas, sehingga dapat dianalisa korelasi penurunan harga pokok penjualan tersebut dengan terjadinya penurunan penjualan. Usaha usaha yang baik perlu diapresiasi dan dikomunikasikan kepada seluruh bagian yang bertujuan untuk meningkatkan motivasi bagi divisi yang lain.

3. BEBAN USAHA

Jumlah Beban usaha tahun 2016 dibanding tahun 2015 naik 13,6%, besarnya kenaikan beban usaha ini melebihi dari tingkat inflasi tahun 2016 sebesar 3%, ditambah lagi kenaikan beban usaha tersebut tidak meningkatkan penjualan justru terjadi sebaliknya. Bila dilihat dari kelompok biaya, maka beban penjualan menempati kenaikan yang tertinggi yaitu sebesar 26,3%, kemudian biaya pegawai naik 13%, dan beban admin. & umum naik 12,4%, sementara beban marketing justru terlihat turun 4,1%.
Bila tidak terjadi perubahan dalam internal perusahaan yang terkait beban usaha, maka beban usaha akan dipengaruhi oleh tingkat inflasi dan regulasi pemerintah tentang ketenagakerjaan, jadi bila biaya operasional naik (dalam rupiah) tidak melebihi tingkat inflasi, masih dapat diterima.
Yang terjadi dalam perusahaan ini beban usaha mengalami kenaikan jauh melebihi tingkat inflasi.
Beban PegawaiBiaya pegawai memang dipengaruhi regulasi pemerintah tentang Upah Minimum Regional (UMR), namun angka naik 13% ada kemungkinan lebih besar dari kenaikan UMR dari UMR tahun sebelumnya. Tetapi bisa saja ada tambahan biaya pegawai yang sebelumnya tidak terjadi misalnya BPJS dan komponen  lainnya. Biaya pegawai ini merupakan biaya tetap, kenaikan sebesar 13% tersebut akan memperberat operasional perusahaan di tahun berikutnya.
Beban MarketingBeban marketing tahun 2016 lebih rendah 4,1% dibanding tahun lalu. Beban marketing tahun 2016 tercatat 4,6% dari penjualan, apakah alokasi beban marketing sebesar itu mencukupi untuk mempertahan atau meningkatkan pendapatan perusahaan. Hal ini sangat tergantung dari produk dan di segmen mana perusahaan berada, apakah berada pada tingkat persaingan yang sangat tinggi atau tidak. Oleh karena itu biaya marketing ini perlu dievaluasi lebih jauh terhadap keterkaitannya dengan penurunan penjualan dan posisi perusahaan dalam persaingan yang dihadapi.
Beban PenjualanBeban penjualan mengalami kenaikan 26,3% dan kenaikan beban ini tidak berkorelasi dengan pencapaian penjualan yang terjadi. Apa yang telah dilakukan oleh divisi penjualan dan bagaimana cara manajemen penjualan dalam mempertanggungjawabkan kenaikan biaya ini. Oleh karena itu diperlukan analisa biaya penjualan lebih jauh, karena bisa saja hal ini dikarenakan salah strategi penjualan, aksi yang tidak efektif dan tidak efisien. Namun secara angka menunjukkan beban penjualan tersebut tidak terkendali dengan baik.
Beban Admin & UmumBiaya admin. & Umum naik 12,4% bisa diterima atau tidak perlu dikaji lebih jauh. Apakah kenaikan beban listrik, kenaikan karena harga barang barang naik pada umumnya, apakah sampai memperbesar kenaikan biaya admin. & umum sebesar itu.
Dari perbandingan beban usaha tahun 2016 dengan tahun 2015 tersebut di atas, secara umum ada keyakinan besar bahwa manajemen dalam mengendalikan beban usaha belum memperhatikan prinsip kehatian-hatian. Selain itu ada kemungkinan besar telah terjadi pemilihan strategi yang tidak efektif atau pelaksanaannya yang menyimpang dan tidak efisien.  Hal ini terlihat dari beban marketing yang justru lebih rendah dari tahun sebelumnya dan beban penjualan naik yang paling tinggi namun tidak memberikan efek terhadap pencapaian penjualan.
Memang analisasi tidak cukup sampai disini masih perlu dilakukan analisa lebih jauh terhadap besarnya biaya operasional yang terjadi pada tahun 2016, sehingga diperoleh kesimpulan yang dapat berguna dalam menentukan strategi bisnis dan operasional di tahun berikutnya.

4. LABA BERSIH SETELAH PAJAK

Laba bersih setelah pajak turun 26,3% dari tahun lalu, bila dihitung prosentase dari penjualan (Net Profit Margin), maka laba bersih tahun 2016 hanya tercapai 8,8% dan turun 2,6% dari tahun lalu yang tercapai sebesar 11,4%.
Dalam pengelolaan bisnis, bila penjualan dan laba bersih turun dari tahun sebelumnya adalah perform kinerja yang kurang baik. Bila trend penurunan sudah terjadi dalam dua tahun terakhir, perlu di waspadai, karena sangat mungkin perusahaan masuk dalam zona bahaya. Jika kondisi itu yang terjadi pada perusahaan, maka seberapa jauh perusahaan dapat bertahan dari penurunan penjualan dan laba bersih. Jika perusahaan mempunyai kewajiban membayar utang melebihi dari hasil operasi, maka perusahaan akan mengalami kesulitan cashflow.

ANALISA KINERJA KEUANGAN

Menurut Munawir (2010:30), kinerja keuangan perusahaan merupakan satu diantara dasar penilaian mengenai kondisi keuangan perusahaan yang dilakukan berdasarkan analisa terhadap rasio keuangan perusahaan. Pihak yang berkepentingan sangat memerlukan hasil dari pengukuran kinerja keuangan perusahaan untuk dapat melihat kondisi perusahaan dan tingkat keberhasilan perusahaan dalam menjalankan kegiatan operasionalnya.

ANALISA RASIO KEUANGAN

Menurut Harahap (2009:297), rasio keuangan merupakan angka yang diperoleh dari hasil perbandingan dari satu akun laporan keuangan dengan akun lainnya yang mempunyai hubungan yang relevan dan signifikan.
Menurut Riyanto (2010:331), umumnya rasio dapat dikelompokkan dalam 4 (empat) tipe dasar, yaitu :
  1. Rasio Likuiditas, adalah rasio yang mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansial jangka pendeknya.
  2. Rasio Leverage, adalah rasio yang mengukur seberapa jauh perusahaan dibelanjai dengan hutang.
  3. Rasio Aktivitas, adalah rasio yang mengukur seberapa efektif perusahaan menggunakan sumber dananya.
  4. Rasio Profitabilitas, adalah rasio yang mengukur hasil akhir dari sejumlah kebijaksanaan dan keputusan-keputusan.

RINGKASAN RASIO KEUANGAN

Berdasarkan data Neraca dan Laporan Rugi Laba di atas, dan setelah dilakukan penghitungan rasio keuangan, diperoleh ringkasan sebagai berikut:
Dari ringkasan rasio keuangan di atas, dapat disimpulkan bahwa :
  • Perusahaan mampu meningkatkan likuiditas perusahaan dengan cara menaikan laba ditahan.
  • Keamanan kreditor lebih baik, dan memudahkan perusahaan dalam memperoleh pinjaman dari pihak ketiga bila diperlukan
  • Kemampuan perusahaan dalam menggunakan aset untuk mendapatkan penjualan menurun dibanding tahun lalu
  • Kemampuan perusahaan dalam meraih margin keuntungan menurun dibanding tahun lalu
  • Kemampuan perusahaan dalam menggunakan aset untuk meraih laba bersih menurun dibanding tahun lalu
  • Kemampuan perusahaan dalam meningkatkan pengembalian modal pemilik menurun dibanding tahun lalu
Berikut rincian analisa rasio keuangan:

1. RASIO LIKUIDITAS

  • Kemampuan Perusahaan dalam menutup utang jangka pendeknyaCaranya adalah membandingkan antara AL (Aset Lancar) dengan KL (kewajiban Lancar), bila AL melebihi dari KL, artinya keuangan perusahaan memiliki kemampuan dalam menutup utang jangka pendeknya. Cara ini disebut Rasio Lancar (Current Ratio).
    Rasio Lancar (Current Ratio) =  AL : KL

    Rasio Lancar 2015 = 90,120,847 : 61,734,197 = 1,45
    Rasio Lancar 2016 = 96,698,632 : 56,604,822 = 1,71
  • Kemampuan Perusahaan dalam menutup utang jangka pendeknya secara cepat
    Rasio Cepat (Quick Ratio) =  (AL-Persediaan) : KL 
    Rasio Cepat 2015 = (90,120,847 – 26,627,729) : 61,734,197 = 1,03Rasio Cepat 2016 = (96,698,632 – 30,672,422) : 56,604,822 = 1,66
Rasio likuiditas perusahaan tahun 2016 dibanding tahun tahun 2015 terjadi kenaikan yang cukup baik. Walaupun hasil usaha menurun, likuiditas tetap ditingkatkan, dengan membentuk cadangan umum atau laba ditahan lebih besar.

2. RASIO LEVERAGE

  • Rasio Hutang (Debt Ratio) 
    Rasio ini merupakan perbandingan antara total kewajiban dengan total aset.
    Rasio Hutang =  (KL+KJP) : Total Aset
    Rasio Hutang 2015 = (61,734,197 + 84,416,243) : 557,762,381 = 0,26
    Rasio hutang 2016 = (56,604,822 + 54,285,897) : 546,793,922 = 0,20
    Rasio hutang terlihat turun, hal ini dikarenakan jumlah hutang pada tahun 2016 menurun. Hal ini cukup menarik bagi kreditor, sehingga perusahaan dapat lebih mudah untuk menambah dana pinjaman jika diperlukan.
  • Time Interest EarnedRasio ini merupakan perbandingan antara laba sebelum bunga dan pajak atau laba operasi (EBIT) dengan beban bunga.
    Beban Bunga 2015 = 8265931Beban Bunga 2016 = 6813356Rasio Interest Earned = Laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) : Beban BungaRasio Interest Earned 2015 = (103,272,192 + 8265931) : 8265931 = 13,5Rasio Interest Earned 2016 = (77,953,670 + 6813356) : 6813356 = 12,4
    Kemampuan perusahaan dalam menutup beban bunga dari hasil operasi menurun dibanding tahun lalu, penurunan ini dapat mempengaruhi pertimbangan kreditor dalam memberikan pinjaman.

3.  RASIO AKTIVITAS

  • Perputaran Persediaan (Inventory Turnover)Rasio ini menunjukkan berapa cepat perputaran persediaan dalam siklus persediaan normal. Menurut Harahap (2009:308), semakin besar rasio ini semakin baik karena dianggap bahwa kegiatan penjualan berjalan cepat.Persediaan awal th 2015 = 25,158,296Perputaran Persediaan = Harga pokok Penjualan : Rata2 PersediaanPerputaran Persediaan 2015 = 429,335,102 : (26,627,729 + 25,158,296)/2 = 16,6Perputaran Persediaan 2016 = 394,741,717 : (30,672,422 + 26,627,729)/2  = 13,8
  • Rata2 Periode Pengumpulan PiutangPerusahaan ini melakukan penjualan secara tunai
  • Perputaran Total Aset (Total Asset Turnover)Rasio ini merupakan rasio yang mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan penjualan berdasarkan aset yang dimiliki perusahaan. Menurut Harahap (2009:309), semakin besar rasio ini semakin baik karena perusahaan tersebut dianggap efektif dalam mengelola asetnya.Perputaran Total Aset = Penjualan : Total AsetPerputaran Total Aset 2015 = 833,065,620 : 557,762,381 = 1,49Perputaran Total Aset 2016 = 798,060,616 : 546,793,922 = 1,46
    Rasio aktivitas terlihat menurun, terutama pada perputaran persediaan turun dari 16,6 X setahun menjadi 13,8 kali setahun.

4.  RASIO PROFITABILITAS

Menurut Harahap (2009:309), rasio profitabilitas menggambarkan kemampuan perusahaan mendapatkan laba melalui semua kemampuannya, dan sumber yang ada seperti kegiatan penjualan, kas, ekuitas, jumlah karyawan, jumlah cabang dan sebagainya. Mengenai rasio-rasio profitabilitas sebagaimana yang diutarakan, menurut Riyanto (2010: 335), dapat dilihat pada uraian sebagai berikut:
  • Margin Keuntungan (Profit Margin)Rasio ini merupakan perbandingan antara laba bersih dengan penjualan.
    Margin Keuntungan = Laba Bersih : Penjualan
    Margin keuntungan 2015 = 94,941,536 : 833,065,620 * 100% = 11,4%
    Margin keuntungan 2016 = 69,973,064 : 798,060,616 * 100% = 8,8%
  • Tingkat Pengembalian Aset (Return On Assets)Rasio ini menunjukkan berapa besar laba bersih diperoleh perusahaan bila diukur dari nilai asetnya. Menurut Harahap (2009:305), semakin besar rasionya semakin bagus karena perusahaan dianggap mampu dalam menggunakan aset yang dimilikinya secara efektif untuk menghasilkan laba.Tingkat Pengembalian Aset = Laba Bersih : Total Aset
    Tingkat Pengembalian Aset 2015 = 94,941,536 : 557,762,381 = 0,17
    Tingkat Pengembalian Aset 2016 = 69,973,064 : 546,793,922 = 0,13
  • Tingkat Pengembalian Ekuitas (Return On Equity)Rasio ini mengukur berapa persen diperoleh laba bersih bila diukur dari modal pemilik. Menurut Harahap (2009:305), semakin besar rasionya semakin bagus karena dianggap kemampuan perusahaan yang efektif dalam menggunakan ekuitasnya untuk menghasilkan labaTingkat Pengembalian Ekuitas = Laba Bersih : EkuitasTingkat Pengembalian Ekuitas 2015 =  94,941,536 : 411,611,941 = 0,23Tingkat Pengembalian Ekuitas 2016 =  69,973,064 : 435,903,203 = 0,16
Seluruh rasio profitablitas mengalami penurunan, hal ini menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menggunakan ekuitas dan seluruh aset untuk menghasilkan laba bersih terlihat menurun dibanding tahun lalu.